Yang pertama terlintas saat mendengar kata ‘rajut’ atau ‘merajut’ adalah nenek-nenek dengan kaca mata melorot di hidung, dudukĀ di kursi goyang dengan segulung benang dan jarum rajut. Boleh juga ditemani seekor kucing hitam (tambah serem kayaknya kalau ada binatang satu ini). Bukan indahnya taplak meja atau hangatnya sweater atau lucunya sepatu bayi. Mungkin, karena aku cuma punya pengalaman bersentuhan dengan rajut lewat buku-buku cerita.
Setelah coba-coba belajar merajut dari seorang teman, baru tau deh syusyahnya………………… minta ampun. Mata pedes, tangan pegel, jari-jari kapalan! Kayaknya bukan aktivitas yang cocok buat nenek-nenek, deh.